Kuliah&Ebook

KULIAH PAKAR KEPERAWATAN KOMUNITAS “Handling Major Problems of Public Health During Pandemic” (Upaya Mengatasi Masalah Utama Kesehatan Masyarakat di Masa Pandemi)

Program Studi D3 Keperawatan STIKES Notokusumo Yogyakarta pada bulan April yaitu
tanggal 19 April s.d 25 April 2021 melaksanakan Praktik Klinik Keperawatan Komunitas. Salah
satu rangkaian kegiatan dari Praktik Klinik Keperawatan Komunitas tersebut adalah Kuliah
Pakar. Pelaksanaan kuliah pakar tersebut sebagai suplementasi materi pembelajaran praktik
klinik keperawatan komunitas dengan tema “Handling Major Problems of Public Health
during Pandemic (Upaya Mengatasi Masalah Utama Kesehatan Masyarakat di Masa
Pandemi)”.
Kuliah pakar telah dilaksanakan pada hari Kamis, 22 April 2021 pada pukul 10.00 WIB dan
diikuti oleh 179 peserta mahasiswa semester VI. Kegiatan ini dilakukan secara daring dengan
media zoom meeting. Narasumber dari kegiatan ini adalah bapak Muhammad Daroji,
SKM.,MPH. Beliau adalah Kepala Puskesmas Gamping 2, Yogyakarta.
Pada kuliah pakar tersebut, Narasumber menyampaikan beberapa outline mengenai Gambaran
pandemi, Dampak Pandemi dan Mitigasi risiko serta beberapa permasalahan kesehatan lain yang
terjadi selama Pandemi Covid 19. Covid atau Corona Virus Disease adalah kelompok virus tipe
baru yang memiliki kode generic milik SARS yaitu SARS-Cov 2. SARS-Cov 2 merupakan
Zoonotic yang bersirkulasi di hewan seperti unta, kucing dan kelelawar. Hewan dengan
coronavirus dapat berkembang dan menginfeksi manusia seperti kasus MERS dan SARS serta
kasus outbreak yang terjadi saat ini. Di Kabupaten Sleman, populasi yang sudah terkonfirmasi
Covid sebanyak 12.330 orang. Angka kesembuhan (Recovery Rate) di Propinsi DIY sebanyak
80,05%, di Kabupaten Sleman sebanyak 90,22% dan Puskesmas Gamping 2 sebanyak 91,06%.
Sedangkan Angka kematian (Case Fatality Rate) di Propinsi DIY sebanyak 2,44%, Kabupaten
Sleman 2,73% dan Puskesmas Gamping 2 sebanyak 4,47%. Berdasarkan hal tersebut tentunya
banyak dampak permasalahan yang terjadi akibat Covid-19”, ungkap bapak Muhammad Daroji.
Bapak Muhammad Daroji menyampaikan bahwa dampak permasalahan yang terjadi akibat
Covid-19 antara lain adalah kesakitan, kematian, gangguan jiwa, aktivitas sosial menjadi
individualis sehingga mudah timbul konflik di masyarakat, aktivitas ekonomi mengalami
perubahan besar seperti produktivitas menurun hingga PHK, aktivitas pendidikan menjadi
kurang efektif dan kurang produktif bagi sebagian masyarakat sehingga mempengaruhi kualitas
SDM di masa depan serta aktivitas beragama juga menjadi terganggu. Kebijakan dan peraturan
yang dilaksanakan selama Pandemi Covid 19 adalah dengan melakukan lock down,
menghentikan segala aktivitas dan tetap berada di rumah, namun hal tersebut masih tetap
menimbulkan masalah kesehatan baru, sehingga diperlukan Mitigasi pengendalian risiko yang
bertujuan membuka akses aktivitas dan mobilitas untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat serta mengatasi masalah-masalah kesehatan yang baru. Berdasarkan dampak
permasalahan tersebut maka upaya penanganan Covid-19 di komunitas yaitu 1). Pendekatan
kewilayahan, lintas sektor, koordinasi dan bimtek satgas kelurahan, koordinasi dengan tokoh
masyarakat, 2). Tracing-Tracking, pemantauan isolasi mandiri dan karantina mandiri,
Pendampingan bantuan logistic bagi keluarga, 3). Pendampingan dekontaminasi lingkungan
kasus konfirm, edukasi dan pendampingan kegiatan masyarakat serta 4). Memberikan edukasi
dan konselingbagi kelompok masyarakat, edukasi dengan media promkes (Flayer, poster, video)
melalui media sosial (Instagram, Facebook, Web, WhatsApp) terutama terkait protokol
kesehatan 5M (masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, mengurangi
mobilitas). Selama Covid-19 banyak ditemukan masalah kesehatan utama yang terjadi di
masyarakat, masalah kesehatan tersebut antara lain adalah DBD (Demam Berdarah Dengue),
Stunting dan Penyakit Tidak Menular (PTM)”, ungkap bapak Muhammad Daroji.

Masalah DBD (Demam Berdarah Dengue) memiliki beberapa dampak yaitu Potensi KLB
(Kejadian Luar Biasa), produktivitas menurun serta muncul masalah ekonomi dan sosial. Bapak
Muhammad Daroji menyampaikan bahwa intervensi yang dilaksanakan adalah dengan
menggunakan metode konvensional dan inovasi. Metode konvensional dengan menguras dan
menutup bak penampungan air, memantau tempat perkembangbiakkan nyamuk serta
memanfaatkan kembali barang bekas. Sedangkan metode inovasi dengan ikanisasi, penggunaan
kelambu dan pelepasan nyamuk ber-wolbachia yang menjadi inovasi pelengkap pengendalian
DBD (Demam Berdarah Dengue). Penanganan DBD di komunitas yang dilakukan yaitu 1).
Advokasi Stakeholder, Sosialisasi Inovasi “Gerdu Duta DBD 110” dan “Si Woly Nyaman”,
Pokjanal DBD dengan protokol kesehatan Covid-19, 2). Pemicuan dan pendampingan di
Pedukuhan dengan protokol kesehatan Covid-19, Bimtek kader jumantik, penyuluhan
masyarakat dengan protokol kesehatan Covid-19, media mural, flayer medsos Instagram,
WhatsApp dan Webb, Abatisasi, Foging jika indikasi.
Masalah Stunting adalah akibat dari gangguan gizi pada masa janin dan usia dini. Stunting
merupakan dampak jangka panjang dari pertumbuhan yang terganggu. Kejadian Stunting bayi
baru lahir cukup tinggi, sehingga intervensi yang telah dilakukan adalah advokasi ke pemerintah
kelurahan, pelatihan kader PMBA, kelas ibu hamil, kelas ibu balita, validasi data PSG,
Pendampingan balita Gibur-Stunting, PHN balita masalah gizi, PMT balita Gibur, Pemberian
TTD bagi remaja putri serta konseling Caten”, ungkap bapak Muhammad Daroji.
Masalah Penyakit Tidak Menular (PTM). Bapak Muhammad Daroji menyampaikan bahwa
Penyakit Tidak Menular (PTM) yang banyak terjadi selama Covid-19 adalah Hipertensi dan
Diabetes Melitus. Penderita Diabetes Melitus paling banyak dialami usia 56-65 tahun yaitu
sebesar 2,57%, sedangkan penderita Hipertensi paling banyak dialami usia 56-65 tahun yaitu
sebesar 3,42%. Sehingga berdasarkan hal tersebut beberapa penanganan telah dilakukan di
lingkup komunitas. Penanganan tersebut antara lain adalah 1). Advokasi Stakeholder, Sosialisasi
inovasi SOP Pelaksanaan Posbindu dalam masa Pandemi Covid-19 dengan Protokol Kesehatan
Covid-19, 2). Layanan Telemedicine, Konsultasi media, 3). Edukasi kelompok Diabetes Melitus
pada Posbindu melalui Media KulWap (Kuliah WhatsApp), 4). Kunjungan PHN kasus Diabetes
Melitus.